Krisis BBM Melanda Dunia, Sejumlah Negara Mulai Alami Kelangkaan Energi





Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang meletus pada akhir Februari 2026 telah memicu krisis energi global. Penutupan jalur vital Selat Hormuz oleh Iran menghentikan aliran sekitar 20 juta barel minyak per hari atau setara 20% dari perdagangan minyak global, menyebabkan lonjakan harga dan kelangkaan bahan bakar di berbagai negara, terutama di Asia dan Afrika

Selat Hormuz, yang merupakan jalur sempit di antara Teluk Persia dan Teluk Oman, menjadi titik kritis karena hampir seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati jalur ini. Dengan penutupan tersebut, pasar global kehilangan lebih dari 11 juta barel per hari, sebuah angka yang menciptakan ketidakseimbangan besar antara pasokan dan permintaan

Harga minyak mentah dunia bergerak liar. Minyak mentah jenis Brent sempat meroket hingga melampaui USD 120 per barel hanya sepekan setelah perang dimulai, melonjak lebih dari 40% dibandingkan harga sebelum konflik yang berada di level USD 70 per barel. Meski sempat melandai ke kisaran USD 100-108 per barel pada akhir Maret, tekanan harga masih terasa kuat. Sementara itu, harga acuan minyak mentah Timur Tengah bahkan melompat ke level USD 140-150 per barel, mencerminkan keketatan pasokan fisik yang sangat ekstrem

Status Negara-negara yang Terdampak

Filipina. Presiden Ferdinand Marcos Jr. mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional pada 24 Maret 2026. Dengan hampir 98% impor minyak mentahnya berasal dari kawasan Teluk, negara ini mengalami lonjakan harga BBM lebih dari dua kali lipat. Cadangan bahan bakar diperkirakan hanya bertahan 45 hari, dan pemerintah mulai menerapkan kebijakan penghematan seperti empat hari kerja dan pengurangan jadwal feri.

Thailand. Pemerintah Thailand terpaksa menaikkan harga BBM hingga 22% per 26 Maret 2026 untuk mengurangi beban subsidi. Harga solar melonjak sekitar 18%, berdampak langsung pada sektor transportasi, pertanian, dan industri. Pemerintah juga meluncurkan kampanye hemat energi dengan mendorong pegawai negeri mengenakan pakaian kasual (kaus) agar pengaturan suhu ruangan (AC) tidak terlalu dingin.

Zimbabwe, harga BBM melonjak 40% dalam waktu kurang dari sebulan. Pemerintah Zimbabwe merespons dengan menaikkan campuran etanol dalam bensin dari 5% menjadi 20% dan menghapus beberapa pajak impor.

Kenya melaporkan 20% stasiun pengisian bahan bakar mengalami kekosongan stok akibat pembelian panik (panic buying). Menteri Energi setempat menuduh oknum pengecer melakukan penimbunan, sementara warga diimbau untuk tidak panik,

Mauritius menghadapi situasi darurat energi setelah satu kapal tanker minyak yang dijadwalkan tiba gagal berlabuh, meninggalkan negara tersebut dengan stok hanya cukup untuk 21 hari. Pemerintah terpaksa mencari pasokan alternatif dari Singapura dengan biaya yang lebih tinggi.

Pemerintah Indonesia memastikan kondisi pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri tetap aman dan terkendali. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia berulang kali menegaskan bahwa Indonesia tidak mengalami krisis energi seperti yang terjadi di sejumlah negara tetangga.

"Kami harus meyakinkan kepada rakyat Indonesia bahwa solar kita insha allah tidak lagi melakukan impor, jadi clear (aman)," ujar Bahlil saat melakukan inspeksi mendadak di Jawa Tengah, Kamis (26/3/2026.

Indonesia masih relatif stabil karena adanya kebijakan subsidi BBM dari pemerintah. Namun, harga BBM nonsubsidi telah mengalami kenaikan mengikuti harga pasar global. Jika krisis ini berlangsung dalam jangka panjang, tekanan terhadap anggaran negara akan semakin besar dan berpotensi berdampak langsung pada masyarakat.



Post a Comment

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Previous Post Next Post